Welcome to Global Rescue Network Site,

levina

GRN is an Indonesian Non Governmental Organization based on a network of people and various institutions which organized the network and various resources to provide Rescue & Relief Operations in response to various disasters. We already have involved in many disasters in Indonesia such as:

  • Aceh Operation, 2004 - 2005
  • Nias Operation, 2005
  • Siaga Merapi Operation, 2006
  • Jogjakarta & Central of Java Operation, 2006
  • Gorontalo Operation, 2006
  • Pantai Selatan operation, 2006
  • Jakarta Flood Rescue & Relief Operation, 2007
  • Sumatra Barat Operation, 2007
  • Manggarai - NTT Operation, 2007
  • Pesisir Pantai Barat Sumatera Operation, 2007
  • Rescue Levina, 2007
  • Jawa Flood Rescue Operation, 2008
  • Rescue Situ Gintung Operation, 2009
  • Rescue Gempa Tasikmalaya Operation, 2009
Thank you for visiting our site, should you need any information please contact us.

Mereka Yang Menderita…

October 12, 2009 grnindonesia Leave a comment
Telah seminggu lamanya tim GRN menelusuri jalan-jalan yang hanya dapat ditembusi oleh motor trail
atau berjalan kaki. Banyak remote area di Kabupaten Pariaman yang belum didatangi bantuan, karena
sulitnya akses. Beberapa korban gempa dengan kondisi patah tulang seharusnya dievakuasi ke rumah
sakit yang memadai. Jiman, 50 tahun, warga Desa Piliang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten
Pariaman yang didatangi tim medis GRN, ahli ortopedi dari Belgia, Prof Dr Beacourt Luc, lebih memilih
tetap bertahan di desanya bersama Murni,47 tahun, istrinya yang menderita trauma. Jiman menderita
patah tulang pinggang akibat tertimpa reruntuhan. Tetangganya seorang ibu yang bernama Apau, 50
tahun yang menderita patah tulang rusuk, juga memilih hal yang sama. “Lebih baik kami mati di
kampung ditunggui para tetangga”, demikian kata mereka. Padahal helicopter dari satuan Polisi yang
berkerjasama dengan GRN telah siap mengangkutnya ke ibukota Pariaman. Begitu antusiasnya
masyarakat menyambut kedatangan bantuan yang baru pertama datang, mereka rela memotong
pohon-pohon bahkan pohon kelapa demi menyiapkan landasan heli. Pengorbanan yang tak sia-sia,
karena bantuan bahan makanan akhirnya datang.
Samsinar, seorang nenek berusia 75 tahun yang tinggal di Ringan-ringan, Nagari Pekandangan,
Kecamatan 6 Lingkung, Kabupaten Pariaman, terpaksa diamputasi jari telunjuk dan tengahnya akibat
telah mengalami pembusukan. Saat gempa terjadi kedua jari tersebut terjepit kusen pintu rumahnya
dan setelah mendapat persetujuan dari keluarga, para dokter ahli ortopedi dari Belgia Dr Gert dan Dr
Fredrick melakukan operasi selama 1 jam di SD Ringan2. Abubakar, 80 tahun menderita sesak nafas dan
tidak dapat berjalan sejak tertimpa reruntuhan rumahnya. Melihat kondisinya semakin memburuk tim
medis GRN segera mengevakuasi ke RS Aisiah Pariaman. Selain korban-korban tersebut, hingga 10
Oktober 2009, telah 612 orang menjalani pengobatan ditangani oleh tim medis GRN di 10 Desa di Kab
Pariaman.
Kerja belum usai, sementara penyakit pasca bencana mulai timbul. Puji syukur banyak relawan yang
terus berdatangan hingga saat ini. Semua berharap hal yang sama, semoga semakin banyak penderitaan
yang dapat dikurangi, semoga segera kembali pada kondisi yang lebih baik.(AY/9/10/09)

Telah seminggu lamanya tim GRN menelusuri jalan-jalan yang hanya dapat ditembusi oleh motor trail atau berjalan kaki. Banyak remote area di Kabupaten Pariaman yang belum didatangi bantuan, karena sulitnya akses. Beberapa korban gempa dengan kondisi patah tulang seharusnya dievakuasi ke rumah sakit yang memadai. Jiman, 50 tahun, warga Desa Piliang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Pariaman yang didatangi tim medis GRN, ahli ortopedi dari Belgia, Prof Dr Beacourt Luc, lebih memilih tetap bertahan di desanya bersama Murni,47 tahun, istrinya yang menderita trauma.

padang1

Jiman menderita patah tulang pinggang akibat tertimpa reruntuhan. Tetangganya seorang ibu yang bernama Apau, 50 tahun yang menderita patah tulang rusuk, juga memilih hal yang sama. “Lebih baik kami mati di kampung ditunggui para tetangga”, demikian kata mereka. Padahal helicopter dari satuan Polisi yang berkerjasama dengan GRN telah siap mengangkutnya ke ibukota Pariaman. Begitu antusiasnya masyarakat menyambut kedatangan bantuan yang baru pertama datang, mereka rela memotong pohon-pohon bahkan pohon kelapa demi menyiapkan landasan heli. Pengorbanan yang tak sia-sia, karena bantuan bahan makanan akhirnya datang.

Samsinar, seorang nenek berusia 75 tahun yang tinggal di Ringan-ringan, Nagari Pekandangan, Kecamatan 6 Lingkung, Kabupaten Pariaman, terpaksa diamputasi jari telunjuk dan tengahnya akibat telah mengalami pembusukan. Saat gempa terjadi kedua jari tersebut terjepit kusen pintu rumahnya dan setelah mendapat persetujuan dari keluarga, para dokter ahli ortopedi dari Belgia Dr Gert dan Dr Fredrick melakukan operasi selama 1 jam di SD Ringan2. Abubakar, 80 tahun menderita sesak nafas dan tidak dapat berjalan sejak tertimpa reruntuhan rumahnya. Melihat kondisinya semakin memburuk tim medis GRN segera mengevakuasi ke RS Aisiah Pariaman. Selain korban-korban tersebut, hingga 10 Oktober 2009, telah 612 orang menjalani pengobatan ditangani oleh tim medis GRN di 10 Desa di Kab Pariaman.

padang2

Kerja belum usai, sementara penyakit pasca bencana mulai timbul. Puji syukur banyak relawan yang terus berdatangan hingga saat ini. Semua berharap hal yang sama, semoga semakin banyak penderitaan yang dapat dikurangi, semoga segera kembali pada kondisi yang lebih baik.(AY/9/10/09)

Ucapan Terima Kasih

October 9, 2009 grnindonesia Leave a comment
Operasi ini dapat berjalan lancar berkat
dukungan dari berbagai pihak, terima kasih
atas kepercayaan pihak-pihak yang telah
memberikan membantu (menurut abjad):
• Adaro Energy
• Bapak Ade Erlangga
• Asia Pacific Resources International
• Gaikindo
• Holcim
• People Who Care (Price Waterhouse
Coopers)
• Riau Andalan Pulp And Paper
• RS Budi Kemuliaan
• RS Persahabatan
• Bapak Supramu Santoso
• Tanoto Foundation
• TNI Angkatan Laut
• Ibu Yta Gultom

Operasi Rescue Gempa Sumatra Barat dapat berjalan lancar berkat dukungan dari berbagai pihak, terima kasih atas kepercayaan pihak-pihak yang telah memberikan membantu (menurut abjad):

• Adaro Energy

• Bapak Ade Erlangga

• Asia Pacific Resources International

• Gaikindo

• Holcim

• People Who Care (Price Waterhouse

Coopers)

• Riau Andalan Pulp And Paper

• RS Budi Kemuliaan

• RS Persahabatan

• Bapak Supramu Santoso

• Tanoto Foundation

• TNI Angkatan Laut

• Ibu Yta Gultom

Operasi Rescue Gempa Sumatra Barat

October 9, 2009 grnindonesia Leave a comment
Tak lebih dari dua bulan setelah Global Rescue Network (GRN) meresmikan terbentuknya GRN Pengda Sumbar, Sumatra Barat dilanda gempa yang kali ini meluluh lantakkan kota Padang dan sekitarnya. Gempa yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 dengan kekuatan 7.6SR itu membuat lebih dari 88.272 bangunan runtuh hingga rusak berat. Tim GRN Sumbar dipimpin oleh Nasrul Ateng lantas berlari menuju Hotel Ambacang dan mengeluarkan 19 korban dimana 2 diantaranya masih hidup dan dievakuasi ke RS M Jamil. Kemudian di Aldira terdapat 4 jenazah yang dievakuasi. Selain juga mengevakuasi korban di LP3S, sebagian anggota tim lainnya melakukan evakuasi korban di rumah-rumah diKelurahan Pondok, Kec Padang Selatan, Kel
Sawahan, Simpang Haru, Kec Lubuk Begalung, Hingga 4 September ke 30 relawan GRN Sumbar terus mencari dan mengevakuasi korban hingga mulai
berdatangannya relawan dari luar Sumatra . Barat maupun dari luar negeri

Tak lebih dari dua bulan setelah Global Rescue Network (GRN) meresmikan terbentuknya GRN Pengda Sumbar, Sumatra Barat dilanda gempa yang kali ini meluluh lantakkan kota Padang dan sekitarnya. Gempa yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 dengan kekuatan 7.6SR itu membuat lebih dari 88.272 bangunan runtuh hingga rusak berat. Tim GRN Sumbar dipimpin oleh Nasrul Ateng lantas berlari menuju Hotel Ambacang dan mengeluarkan 19 korban dimana 2 diantaranya masih hidup dan dievakuasi ke RS M Jamil. Kemudian di Aldira terdapat 4 jenazah yang dievakuasi. Selain juga mengevakuasi korban di LP3S, sebagian anggota tim lainnya melakukan evakuasi korban di rumah-rumah diKelurahan Pondok, Kec Padang Selatan, Kel

Sawahan, Simpang Haru, Kec Lubuk Begalung, Hingga 4 September ke 30 relawan GRN Sumbar terus mencari dan mengevakuasi korban hingga mulai

berdatangannya relawan dari luar Sumatra . Barat maupun dari luar negeri

Menjangkau lokasi yang terpencil…

Tim GRN Pusat tiba di Sumatra Barat 2 September dan menggelar operasi evakuasi dan bantuan medis di daerah Tandike & Kampung Dalam, Kab. Pariaman. Tim Rescue Paiton yang tergabung dalam tim lantas mencoba mencari korban yang masih hidup. Namun dari lebih 100 orang yang belum ditemukan diduga telah tewas tertimbun tanah longsor. Banyak korban di daerah ini yang paling akhir mendapat bantuan karena tidak semua daerah dapat terakses dengan baik. Tim Medis GRN yang berasal dari RS Persahabatan, RS Budi Kemuliaan dan UKI mengobati beberapa korban dengan kondisi patah tulang serta beberapa anak-anak dan orang dewasa mulai terserang pernyakit ispa.

Tim GRN di Pariaman memiliki misi memberikan pertolongan dengan menjangkau daerahdaerah terpencil. Relawan dan tim medis terkadang hanya dapat naik motor atau berjalan kaki untuk menjangkau daerah tersebut. Persediaan obat yang cepat menyusut telah mendapat supply dari RS Persahabatan & RS Budi Kemuliaan, Holcim, dan People Who Care. Mulai tanggal 7 Oktober, Tim Medis GRN akan diperkuat oleh 3 dokter ahli dan 5 paramedis dari Belgia.

Sekarang mereka mengungsi…

Listrik sudah mulai menyala di beberapa daerah di Kota Padang. Namun air bersih akhirnya menjadi barang langka mengingat banyak masyarakat Padang yang menggunakan fasilitas PAM yang telah dibangun sejak jaman Belanda. Ketika pipapipa PAM patah, banyak diantara mereka yang tidak punya pompa air. Dengan segala keterbatasan masyarakat yang rumahnya rusak mendirikan tenda di depan rumah mereka.

Sementara di Pariaman banyak korban yang masih membutuhkan terpal sebagai tempat berteduh serta bahan makanan yang dapat mereka masak dengan peralatan yang berhasil mereka kumpulkan dari puingpuing reruntuhan rumahnya. Menyantap mie instan selama berhari-hari membuat ada diantara mereka yang mulai terganggu.