Telah seminggu lamanya tim GRN menelusuri jalan-jalan yang hanya dapat ditembusi oleh motor trail
atau berjalan kaki. Banyak remote area di Kabupaten Pariaman yang belum didatangi bantuan, karena
sulitnya akses. Beberapa korban gempa dengan kondisi patah tulang seharusnya dievakuasi ke rumah
sakit yang memadai. Jiman, 50 tahun, warga Desa Piliang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten
Pariaman yang didatangi tim medis GRN, ahli ortopedi dari Belgia, Prof Dr Beacourt Luc, lebih memilih
tetap bertahan di desanya bersama Murni,47 tahun, istrinya yang menderita trauma. Jiman menderita
patah tulang pinggang akibat tertimpa reruntuhan. Tetangganya seorang ibu yang bernama Apau, 50
tahun yang menderita patah tulang rusuk, juga memilih hal yang sama. “Lebih baik kami mati di
kampung ditunggui para tetangga”, demikian kata mereka. Padahal helicopter dari satuan Polisi yang
berkerjasama dengan GRN telah siap mengangkutnya ke ibukota Pariaman. Begitu antusiasnya
masyarakat menyambut kedatangan bantuan yang baru pertama datang, mereka rela memotong
pohon-pohon bahkan pohon kelapa demi menyiapkan landasan heli. Pengorbanan yang tak sia-sia,
karena bantuan bahan makanan akhirnya datang.
Samsinar, seorang nenek berusia 75 tahun yang tinggal di Ringan-ringan, Nagari Pekandangan,
Kecamatan 6 Lingkung, Kabupaten Pariaman, terpaksa diamputasi jari telunjuk dan tengahnya akibat
telah mengalami pembusukan. Saat gempa terjadi kedua jari tersebut terjepit kusen pintu rumahnya
dan setelah mendapat persetujuan dari keluarga, para dokter ahli ortopedi dari Belgia Dr Gert dan Dr
Fredrick melakukan operasi selama 1 jam di SD Ringan2. Abubakar, 80 tahun menderita sesak nafas dan
tidak dapat berjalan sejak tertimpa reruntuhan rumahnya. Melihat kondisinya semakin memburuk tim
medis GRN segera mengevakuasi ke RS Aisiah Pariaman. Selain korban-korban tersebut, hingga 10
Oktober 2009, telah 612 orang menjalani pengobatan ditangani oleh tim medis GRN di 10 Desa di Kab
Pariaman.
Kerja belum usai, sementara penyakit pasca bencana mulai timbul. Puji syukur banyak relawan yang
terus berdatangan hingga saat ini. Semua berharap hal yang sama, semoga semakin banyak penderitaan
yang dapat dikurangi, semoga segera kembali pada kondisi yang lebih baik.(AY/9/10/09)
Telah seminggu lamanya tim GRN menelusuri jalan-jalan yang hanya dapat ditembusi oleh motor trail atau berjalan kaki. Banyak remote area di Kabupaten Pariaman yang belum didatangi bantuan, karena sulitnya akses. Beberapa korban gempa dengan kondisi patah tulang seharusnya dievakuasi ke rumah sakit yang memadai. Jiman, 50 tahun, warga Desa Piliang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Pariaman yang didatangi tim medis GRN, ahli ortopedi dari Belgia, Prof Dr Beacourt Luc, lebih memilih tetap bertahan di desanya bersama Murni,47 tahun, istrinya yang menderita trauma.

Jiman menderita patah tulang pinggang akibat tertimpa reruntuhan. Tetangganya seorang ibu yang bernama Apau, 50 tahun yang menderita patah tulang rusuk, juga memilih hal yang sama. “Lebih baik kami mati di kampung ditunggui para tetangga”, demikian kata mereka. Padahal helicopter dari satuan Polisi yang berkerjasama dengan GRN telah siap mengangkutnya ke ibukota Pariaman. Begitu antusiasnya masyarakat menyambut kedatangan bantuan yang baru pertama datang, mereka rela memotong pohon-pohon bahkan pohon kelapa demi menyiapkan landasan heli. Pengorbanan yang tak sia-sia, karena bantuan bahan makanan akhirnya datang.
Samsinar, seorang nenek berusia 75 tahun yang tinggal di Ringan-ringan, Nagari Pekandangan, Kecamatan 6 Lingkung, Kabupaten Pariaman, terpaksa diamputasi jari telunjuk dan tengahnya akibat telah mengalami pembusukan. Saat gempa terjadi kedua jari tersebut terjepit kusen pintu rumahnya dan setelah mendapat persetujuan dari keluarga, para dokter ahli ortopedi dari Belgia Dr Gert dan Dr Fredrick melakukan operasi selama 1 jam di SD Ringan2. Abubakar, 80 tahun menderita sesak nafas dan tidak dapat berjalan sejak tertimpa reruntuhan rumahnya. Melihat kondisinya semakin memburuk tim medis GRN segera mengevakuasi ke RS Aisiah Pariaman. Selain korban-korban tersebut, hingga 10 Oktober 2009, telah 612 orang menjalani pengobatan ditangani oleh tim medis GRN di 10 Desa di Kab Pariaman.

Kerja belum usai, sementara penyakit pasca bencana mulai timbul. Puji syukur banyak relawan yang terus berdatangan hingga saat ini. Semua berharap hal yang sama, semoga semakin banyak penderitaan yang dapat dikurangi, semoga segera kembali pada kondisi yang lebih baik.(AY/9/10/09)