Operasi Rescue Gempa Sumatra Barat
Tak lebih dari dua bulan setelah Global Rescue Network (GRN) meresmikan terbentuknya GRN Pengda Sumbar, Sumatra Barat dilanda gempa yang kali ini meluluh lantakkan kota Padang dan sekitarnya. Gempa yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 dengan kekuatan 7.6SR itu membuat lebih dari 88.272 bangunan runtuh hingga rusak berat. Tim GRN Sumbar dipimpin oleh Nasrul Ateng lantas berlari menuju Hotel Ambacang dan mengeluarkan 19 korban dimana 2 diantaranya masih hidup dan dievakuasi ke RS M Jamil. Kemudian di Aldira terdapat 4 jenazah yang dievakuasi. Selain juga mengevakuasi korban di LP3S, sebagian anggota tim lainnya melakukan evakuasi korban di rumah-rumah diKelurahan Pondok, Kec Padang Selatan, Kel
Sawahan, Simpang Haru, Kec Lubuk Begalung, Hingga 4 September ke 30 relawan GRN Sumbar terus mencari dan mengevakuasi korban hingga mulai
berdatangannya relawan dari luar Sumatra . Barat maupun dari luar negeri
Menjangkau lokasi yang terpencil…
Tim GRN Pusat tiba di Sumatra Barat 2 September dan menggelar operasi evakuasi dan bantuan medis di daerah Tandike & Kampung Dalam, Kab. Pariaman. Tim Rescue Paiton yang tergabung dalam tim lantas mencoba mencari korban yang masih hidup. Namun dari lebih 100 orang yang belum ditemukan diduga telah tewas tertimbun tanah longsor. Banyak korban di daerah ini yang paling akhir mendapat bantuan karena tidak semua daerah dapat terakses dengan baik. Tim Medis GRN yang berasal dari RS Persahabatan, RS Budi Kemuliaan dan UKI mengobati beberapa korban dengan kondisi patah tulang serta beberapa anak-anak dan orang dewasa mulai terserang pernyakit ispa.
Tim GRN di Pariaman memiliki misi memberikan pertolongan dengan menjangkau daerahdaerah terpencil. Relawan dan tim medis terkadang hanya dapat naik motor atau berjalan kaki untuk menjangkau daerah tersebut. Persediaan obat yang cepat menyusut telah mendapat supply dari RS Persahabatan & RS Budi Kemuliaan, Holcim, dan People Who Care. Mulai tanggal 7 Oktober, Tim Medis GRN akan diperkuat oleh 3 dokter ahli dan 5 paramedis dari Belgia.
Sekarang mereka mengungsi…
Listrik sudah mulai menyala di beberapa daerah di Kota Padang. Namun air bersih akhirnya menjadi barang langka mengingat banyak masyarakat Padang yang menggunakan fasilitas PAM yang telah dibangun sejak jaman Belanda. Ketika pipapipa PAM patah, banyak diantara mereka yang tidak punya pompa air. Dengan segala keterbatasan masyarakat yang rumahnya rusak mendirikan tenda di depan rumah mereka.
Sementara di Pariaman banyak korban yang masih membutuhkan terpal sebagai tempat berteduh serta bahan makanan yang dapat mereka masak dengan peralatan yang berhasil mereka kumpulkan dari puingpuing reruntuhan rumahnya. Menyantap mie instan selama berhari-hari membuat ada diantara mereka yang mulai terganggu.

